Prospek Ekonomi Indonesia 2011 (Tulisan Softskill)


Prospek Ekonomi Indonesia 2011
(Tulisan Softskill)

A. Evaluasi Perekonomian Indonesia 2010.
Untuk mengetahui prospek ekonomi Indonesia pada tahun 2011, maka perlulah untuk dilakukannya analisis dan evaluasi atas perekonomian sebelumnya yaitu tepatnya kejadian sektor-sektor ekonomi pada tahun 2010.
Dan untuk analisis evaluasi tersebut, akan dilakukan dalam dua kelompok yaitu, keuangan dan sektor rill. Selain itu, sebelum melakukan analisis tehadap perekonomian Indonesia 2010, maka perlu juga dikemukakan atas pertumbuhan ekonomi untuk tiga kuartal bagi negara-negara ASEAN.

Ekonomi Regional
Sebelum membahas pertumbuhan ekonomi selayaknya mengetahui posisi Indonesia dalam ukuran PDB. Grafik dibawah ini memperlihatkan PDB beberapa negara.
Grafik PDB Beberapa Negara

Berdasarkan urutan tersebut, maka posisi Indonesia memiliki PDB yang terendah setelah Swiss dan Belgia. Secara besaran negara dibandingkan kedua negara tersebut Indonesia lebih besar. Bahkan bila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang saat ini sudah mencapai 240 juta dan merupakan pasar keempat terbesar di dunia setelah China, USA dan India, maka PDB yang diciptakan Indonesia sangat rendah. Tetapi, rendahnya PDB ini juga memberikan peluang kepada penduduk Indonesia terutama Pemerintah untuk menaikkan PDB dengan berbagai tindakan yang meningkatkan perekonomian.
Ekonomi Indonesia tidak terlepas dari ekonomi negara-negara tetangga terutama negara ASEAN. Grafik berikut memperlihatkan pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota ASEAN. Pertumbuhan ekonomi tertinggi untuk 3 kuatal pada tahun 2010 dimiliki oleh negara Singapura. Padahal negara ini mengalami pertumbuhan yang negatif selama hampir 7 kuartal sehingga Singapura dianggap mengalami resesi.
Adapun negara yang sama dengan kondisi Singapura mengalami pertumbuhan negative yaitu Malaysia dan Thailand. Sementara negara Filipina mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari tiga negara tersebut tetapi masih tetap jauh dibawah pertumbuhan ekonomi Indonesia. Keberhasilan Indonesia membuat pertumbuhan yang positif dikarenakan pemerintah tetap melakukan pengetatan dan kebijakan yang membuat pertumbuhan stabil dan tidak terlalu kencang.

Tingkat Bunga
Tingkat bunga merupakan sebuah variabel sangat penting pada suatu negara, karena tingkat bunga ini menjadi pokok persoalan dan bisa berakibat ke berbagai sektor ekonomi. Bila tingkat bunga mengalami kenaikan maka sektor pasar modal misalnya Indeks Harga saham akan mengalami penurunan. Permintaan barang-barang akan melemah karena dana mengalir untuk investasi di sektor keuangan dan juga investasi sektor riil akan turun dikarenakan tingkat bunga yang meningkat. Oleh karenanya, pemerintah sangat memperhatikan gejolak tingkat bunga ini dan pemerintah sangat hati-hati dalam menaikkan atau menurunkan tingkat bunga.
Dalam kebijakan tingkat bunga, Bank Indonesia memperkenalkan SBI rate yang diumumkan setiap bulan. Tingkat bunga ini menjadi patokan berbagai pihak dalam menentukan tingkat bunga pinjaman dan deposito untuk perbankan dan juga melakukan ekspansi bagi perusahaan swasta. Hampir dua tahun pemerintah tidak melakukan kenaikan tingkat bunga, sementara tingkat bunga di luar negeri masih terus turun sehingga gap tingkat bunga sangat besar spreadnya.
Akibatnya, banyak uang yang mengalir ke Indonesia dengan spread yang tinggi tersebut. Tindakan carry-trade banyak dilakukan pengusaha dan pemerintah mengelola keuangan negara yang bersangkutan.
Tingkat bunga deposito lebih kecil dari tingkat bunga SBI, sehingga Pemerintah yang menanggung operasioanl perbankan. Spread yang diperoleh perbankan cukup membiayai bank yang bersangkutan. Belakangan ini mulai muncul tingkat bunga deposito lebih tinggi setelah Bank Indonesia mulai menutup SBI satu bulan. Perbankan kemudian beralih investasinya ke obligasi Pemerintah. Artinya, masih terjadi persoalan keuangan di Indonesia dimana pemerintah masih menanggung biaya keuangan di Indonesia.

Inflasi
Inflasi merupakan ukuran perubahan harga secara menyerluruh. Tingkat bunga yang berlaku selalu mengacu kepada tingkat inflasio. Bila inflasi meningkat maka tingkat bunga akan meningkat karena tingkat bunga nominal merupakan hasil jumlah inflasi dengan tingkat bunga riil. Grafik berikut memperlihatkan tingkat inflasi per bulan, kumulatif dan year on year.
Tingkat inflasi yang terjadi masih relatif konstan pada level 6 persen sejak tiga tahun terakhir sehingga Pemerintah tetap mempertahankan tingkat bunga pada level 6,5% sampai 7,5 persen. Ada empat faktor penting yang membuat terjadinya inflasi tinggi yaitu kebijakan Pemerintah tentang Tarif dasar Listrik (TDL), harga minyak, dan musim kemarau serta kebijakan tingkat bunga. Kebijakan tingkat bunga ini kelihatan dipengaruhi inflasi tetapi setelah Pemerintah mengambil kebijakan tingkat bunga naik maka terjadi kemandekan harga menuju deflasi. Bila ketiga faktor ini tidak berubah kelihatannya inflasi masih stabil. Tetapi, inflasi ini akan berubah di masa mendatang karena pemerintah kebijakan pemerintah akan TDL dan harga bahan bakar minyak yang diatur untuk pembeliannya sehingga subsidi minyak lebih kecil.

Nilai Kurs
Salah satu variabel makro yang sering dikelola dan dibuat dalam Undang Undang yaitu nilai kurs. Nilai kurs harus dikelola agar tidak menimbulkan persolan pada inflasi dan perekonomian secara keseluruhan. Nilai kurs dollar ini juga selalu dikaitkan dengan cadangan devisa. Biasanya, kurs dollar suatu negara akan bagus maka nilai cadangan devisanya sangat tinggi.
Nilai kurs mengalami fluktuasi melebihi level 9.500 pada periode tahun 2005 dan tahun 2008. Adapun fluktusi dollar melebih level 9.500 pada tahun 2005 dikarenakan adanya krisis keuangan di Indonesia dimana terjadi penarikan besar-besaran di Reksa Dana. Pada tahun 2008, nilai dollar melebihi level 9.500 juga dipengaruhi adanya persoalan keuangan di dunia dimana Lehman Brothers ditutup. Akibatnya, seluruh dunia mengalami persoalan atas krisis Amerika Serikat ini dan juga terimbas ke Indonesia.
Kemudian kurs dollar tersebut semakin turun ke level 9.000 yang memberikan arti bahwa nilai dollar semakin melemah atas rupiah. Pemerintah harus menjaga nilai kurs terus agar perekonomian bisa bergerak dengan baik. Level 8.000 s/d 9.000 merupakan level ekuilibrium dari Kurs Dollar tersebut asalkan dana tidak ditarik secara tiba-tiba. Bila Amerika Serikat menaikkan tingkat bunganya adanya kemungkinan dana masuk yang cukup besar dalam dua tahun terakhir maka dana tersebut akan keluar dan membuat kurs dollar mengalami kenaikan di level 9.500. Pemerintah harus menjaganya dengan memberikan informasi kepada public secepatnya terutama kependuduk Indonesia agar bisa menahan nilai kurs tersebut pada level yang diinginkan. Kebijakan yang menaikkan inflasi tidak perlu diterbikan Pemerintah dalam masa mendatang agar kurs dollar ini tetap stabil.

Harga Minyak
Indonesia sebagai salah satu penghasil minyak mentah menjadikan pendapatan dari minyak mentah sebagai salah satu sumber pendapatan dari APBN. Tetapi, pemerintah mengambil kebijakan untuk memberikan subsidi atas harga minyak untuk dalam negeri yang dipakai masyarakat. Masyarakat yang berkecukupan juga disubsidi Pemerintah dengan membelinya minyak premium untuk keperluan sehari-hari yaitu transportasi mobil pribadi.
Mengenai Minyak bumi ini juga sebagai bahan asumsi Pemerintah ketika membuat APBN setiap tahunnya. Ada dua variabel yang selalu dimasukkan kedalam asumsi APBN yaitu lifting dan harga minyak. Realisasi lifting minyak selalu dibawah dari perkiraan yang dilakukan pada APBN. Ini terjadi pada periode 2006 sampai dengan periode 2008. Kemudian realisasi lifting minyak ini hampir sampa dengan perkiraan pemerintah pada APBN di tahun 2009. Mudah-mudahan realisasi lifting minyak pada tahun 2010 sesuai dengan perkiraan pada APBN.
Harga minyak mentah masih cukup rendah sekitar US$ 20 per barrel pada tahun 1998 dan terus mengalami peningkatan mencapai sekitar US$ 140 per barrel pada Juni 2008. Sebenarnya, harga minyak mentah tersebut pernah mencapai nilai tertinggi pada pasar future sekitar US$ 250 per barrel.
Harga minyak tersebut mengalami penurunan yang sangat tajam menjadi sekitar US$ 40 per barrel padaapril 2009. Penurunan ini dikarenakan tidak terjadinya perang di Timur Tengah dan semua masyarakat OPEC menaikkan lifting sehingga volume penawaran minyak yang meningkat. Selanjutnya, harga minyak tersebut kembali mengalami kenaikan sampai pada level US$ 90 per barrel. Walaupun harga minyak mengalami kenaikan tetapi tidak mempunyai dampak positif yang cukup besar untuk perekonomian bahkan mempunyai dampak negatif yaitu terjadi peningkatan inflasi. Pemerintah sebaiknya melakukan tindakan memperbaiki sektor perminyakan agar kenaikan harga minyak tidak membuat dampak negatif terhadap masyarakat.

APBN dan APBN-P
Salah satu mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara terletak pada anggaran belanja negara yang bersangkutan dimana di Indonesia dikenal dengan Anggaran Pembelanjaan Belanja Negara (APBN) dan setelah mendapat persetujuan dari DPR dikenal dengan APBN-P.
APBN-P Indonesia pada tahun 2009 sekitar Rp. 1000 trilliun dan meningkat menjadi Rp.1126,1 trilliun pada tahun 2010. Adanya peningkatan belanja negara ini untuk mendukung perekonomian. Tetapi, defisit anggaran terjadi sudah cukup kecil karena pada tahun 2009 sekitar 2,5% dikarenakan adanya stimulus yang dilakukan sekitar 1,4% atau sebesar Rp.73,3 trilliun. Bila defisit anggaran 2009 dibandingkan dengan tahun maka terjadi kenaikan defisit yang cukup signifikan.
DPR telah menyetujui APBN yang dikenal dengan APBN-P dimana belanja negara dianggarkan sebesar Rp.1.126,1 trilliun. Anggaran tersebut dialokasikan sebesar belanja pemerintah pusat sebesar Rp.781,5 trilliun dan Transfer ke Daerah sebesar Rp.344.6 trilliun. Sedangkan anggaran pengeluaran tersebut didanai dari pendapatan negara yang diperoleh sebesar Rp.992,4 trilliun, yang berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp.743,3 trilliun dan penerimaan bukan pajak sebesar Rp.247.2 trilliun dan penerimaan hibah sebesar Rp. 1,9 trilliun.
Pada tahun 2009, daya serap anggaran lebih dari yang dianggarkan hanya mampu menyerap sekitar 92%1. Sungguh aneh memang, anggaran sudah dipersiapkan tapi tidak dipergunakan, sehingga ada kemungkinan anggaran yang dibuat terlalu tinggi atau kemampuan melakukan eksekusi atas program yang ada tidak baik (bagus).
Penyerapan APBN ini dianggap rendah untuk tahun 2010 ini, dimana informasi yang beredar bahwa penyerapan anggaran tersebut sampai 15 Oktober 2010 realisasi belanja sebesar Rp. 681,69 trilliun atau 60,5% dari pagu Rp. 1126,1 trilliun2 dan pada akhir November 2010, penyerapan anggaran masih 72,6%.
Bila penyerapan atau realisasi anggaran tersebut sudah mendekati pagunya pada akhir desember maka pertumbuhan ekonomi tidak mungkin sebesar yang diperoleh sekarang kemungkinan akan lebih besar. Ada kemungkinan realisasi anggaran tersebut terjadi pada administrasi tetapi bukan kenyataan di lapangan. Hasil ini juga menyatakan bahwa adanya pertumbuhan ekonomi di tahun mendatang dikarenakan adanya pengeluaran pada kuartal keempat tahun sebelumnya. Artinya, ada pergeseran pertumbuhan ekonomi di kuartal keempat berdasarkan realisasi anggaran menjadi pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun berikutnya. Kejadian ini juga menunjukkan memburuknya pengelolaan perekonomian Indonesia sehingga tidak kelihatan optimal walaupun memenuhi target yang dipakai pada asumsi yang telah disetujui DPR.

Utang Luar Negri
Pemerintah Indonesia selalu menganut adanya defisit anggaran yang didanai dari hutang. Awalnya, ketika Pemerintah Suharto, defisit anggaran tersebut didanai dari pinjaman luar negari baik pinjaman tunai, proyek maupun kerjasama. Sebelum membahas utang Indonesia maka posisi Indonesia dibandinhkan beberapa Negara yang ditunjukkan dibawah ini.
Pada tabel tersebut terlihat bahwa Indonesia mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tertinggi dari beberapa negara tersebut. Demikian pula, utang per PDB bahwa Indonesia mempunyai rasio yang paling rendah hanya 27%, sementara Negara lain diatas 50%. Adapun rasio tertinggi dimiliki oleh Yunani sebesar 130,24% dan salah satu faktor yang membuat Yunani mempunyai persoalan keuangan pada tahun 2010.
Kemudian, Itali mempunyai rasio terbesar setelah Yunani yaitu 118,36% dan diikuti Belgia sebesar 100,20%. Ketiga negara ini yang mempunyai rasio utang per PDB diatas 100%. Dua negara yaitu Yunani dan Italia telah mencuat mempunyai persoalan dalam negeri. Belgia belum ada berita mempunyai persoalan keuangan walaupun telah melebihi 100%. Indonesia yang mempunyai ratio terendah dan masih dibawah 50% sementara negara yang lain sudah diatas 50%, jangan terlena karena secara tiba-tiba bisa saja menjadi persoalan. Kesalahan pengelolaan utang akan menimbulkan persoalan ekonomi negara yagn bersangkutan. Pemerintah Indonesia sebaiknya membuat rekayasa utang ini agar bisa terbayar di kemudian hari.
Tabel Hutang per-PDB Beberapa Negara

Pada tabel berikut diperlihatkan hutang luar negeri sebesarUS$ 58,9 milyar pada tahun 2001 meningkat menjadi US$ 65.22 milyar. Lonjakan paling besar terjadi pada tahun 2008 dari US$ 62,25 milyar pada tahun 2007 menjadi US$ 6669. Adapun hutang luar negeri tersebut dapat dikelompokkan menjad hutang bilateral, multilateral, komersial dan hutang suppliers. Hutang paling besar pada hutang bilateral dimana hutang ini mencapai 60 s/d 70 persen dari seluruh hutang luar negeri tersebut. Urutan kedua yaitu hutang multilateral nilainya hampir separuh dari hutang bilateral. Kedua jenis hutang ini yang memberikan peranan besar atas hutang luar negeri Indonesia.
Tabel Posisi Pinjaman Indonesia

Utang luar negeri yang terus meningkat ini mempunyai persoalan di belakang hari terutama akan meningkat terus bila dikonversikan terhadap Rupiah bila Rupiah terus melemah. Persoalan berikutnya, bagaimana hutang tersebut akan dibayar bila perekonomian tidak terus mengalami peningkatan yang tajam, sementara kebijakan yang diambil selalu menjadi anak manis yang harus terus membayar hutang walaupun kenaikan hutang bukan kesengajaan tetapi situasi yang tidak bisa dikelolan Pemerintah maupun pemberi pinjaman.
Utang luar negeri yang dilakukan dengan sebuah komitmen dan disetujui melalui sebuah kontrak. Ada juga pinjaman luar negeri tersebut tidak ditarik pemerintah yang dikenal undisbursed loan. Adapun undisbursed loan yang sebesar US$ 9,3 miliar pada tahun 2006, meningkat menjadi US$ 9,7 miliar pada tahun 2007, meningkat lagi menjadi US$ 11,6 miliar pada tahun 2008 dan meningkat tajam lagi menjadi US$ 16,4 miliar pada tahun 2009.
Pemerintah sebaiknya memperbaiki hutang luar negeri agar tidak menjadi problema di masa mendatang. Salah satu tindakan yang bisa dilakukan yaitu dengan rekayasa keuangan dimana hutang yang diterima bisa membayar pokok hutang tersebut melalui jaminan hutang tersebut.

PMA dan PMDN
Tabel berikut memperlihatkan realisasi PMA dan PMDN selama periode 2005 sampai dengan kuartal ke-3 tahun 2010. Realisasi PMDN selalu lebih tinggi dari PMDN yang ditunjukkan data bahwa pada tahun 2005 terjadi realisasi sebesar Rp,30,7 trilliun untuk PMDN dan Rp. 8,9 trilliun untuk PMA. Kemudian pada akhir tahun 2009 terjadi realisasi PMDN sebesar Rp. 37,8 trilliun dan sebesar Rp. 10,8 trilliun untuk PMA. Realisasi PMDN selalu fluktuatif nilainya dari tahun ketahun. Sementara PMA mengalami kenaikan yuang konsisten, tetapi terjadi penurunan pada tahun 2009 dibandingkan dengan tahun 2008.
Perkembangan realisasi Investasi

Selanjutnya, terjadi perubahan dimana Realisasi PMA lebih tinggi dari PMDN pada tahun 2010 walaupun hanya masih 3 kuartal. Realisasi PMDN hanya sebesar Rp.16,6 trilliun dan PMA sebesar Rp. 40,1 trilliun. Peningkatan realisasi PMA ini merupakan indikasi peningkatan kepercayaan asing terhadap Indonesia disebabkan stabilnya kondisi politik di Indoneisa.

Penjualan Mobil dan Motor
Sebagai negara berkembang, maka pertumbuhan ekonomi sangat dapat dilihat dari penjualan mobil. Penjualan mobil untuk beberapa negara ASEAN diperlihatkan pada Tabel dibawah ini. Penjualan Mobil di Brunei mengalami penurunan sejak tahun 2008 sampai dengan 2010 (posisi September). Singapura yang mengalami penurunan yang tajam atas penjualan mobil. Penurunan ini tidak terlepas dari resesi ekonomi yang terjadi dua tahun terakhir di negara tersebut.
Tabel Penjualan Mobil di ASEAN

Kelihatannya, penjualan mobil ini mengalami penurunan untuk tahun 2010 pada negara-negara ASEAN. Indonesia merupakan negara yagn paling besar menjual mobil dari semua negara ASEAN tersebut. Urutan berikutnya ditempati oleh Malaysia dimana jumlah yang dijual hampir mendekati dengan Indonesia. Tetapi bila dipandang dari jumlah penduduk maka Indonesia sangat jauh penjualan tersebut sehingga dapat dikatakan bahwa penjualan mobil di Indonesia masih mempunyai kesempatan di masa-masa mendatang mengingat analisis data yang ada.

B. Prospek Ekonomi Indonesia 2011
Pemahaman terhadap ekonomi 2010 telah diuraikan sebelumnya, dimana angka-angka yang diperoleh bisa tercapai. Pada tahun 2011 pemerintah dan pihak swasta memberikan proyeksi pada tahun 2011 sebagai berikut :
• Economic Growth 6,4%
• Kurs Rupiah Rp. 9.250 per US$
• SBI 3 months 6,5%
• Inflasi 5,3%
• Harga Minyak US$ 80 per barrel
• Lifting Minyak 970 ribu per hari
• Kredit Growth > 20%
• Industri Properti Growth 12% equivalen
• Konsumsi Semen Growth 10%
• Penjualan motor growth 12%
• Penjualan Mobil 800 ribu unit pada 2011
• Pertumbuhan Investasi (PMA/PMDN) diatas 15%

Angka pertumbuhan yang dicanangkan pemerintah tidak banyak perubahan dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam hal harga minyak dan lifting minyak maka pemerintah kelihatan sedikit mendekati tetapi untuk harga minyak kebanyak meleset. Hanya lfiting minyak yang sedikit tepat dua tahun terakhir, dikarenakan faktor luar tidak ada yang mempengaruhi sehingga angka tersebut tefcapai.
Baru-baru ini, pemerintah membuat kebijakan tentang subsidi BBM dimana semua mobil plat hitam tidak boleh membeli premium dan harus pertamax. Artinya, ada pergerseran pembelian dan meningkatkan pembelian. Peningkatan pembelian ini juga merupakan kebijakan pemerintah yang meningkatkan harga terselubung sehingga inflasi akan meningkat di masa mendatang. Akibatnya, kenaikan inflasi membuat pengambil kebijakan harus menaikkan tingkat bunga. Kenaikan tingkat bunga akan memberikan persoalan bagi perekonomian di masa mendatang.
Pemerintah harus bekerja keras lagi untuk meningkatkan perekonomian, pertumbuhan lebih tinggi bisa tercapai bila pemerintah serius memperbaiki ekonomi. Salah satu tindakan yang perlu dilakukan yaitu memperbesar ekspansi dan tidak terlambat. Salah satu contoh realisasi APBN yang selalu terlambat dan bila ini bisa diperbaiki akan menimbulkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari perkiraan. Swasta tingak mungkin melakukan investasi bila pemerintah tidak menjadi leader dalam bidang ini. Mudah-mudah Pemerintah merubah strateginya pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran masyarakat tercapai.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian sebelumnya bahwa dapat disimpulkan bahwa data perkiraan yang dibuat pemerintah bisa tercapai tetapi mikronya belum berhasil. Tetapi, inflasi masih ada muncul di masa mendatang yang mengakibatkan tingkat bunga akan meningkat dari tingkat bunga yang sekarang.

Sumber :
1. Prof. Dr. Adler Haymans Manurung, Evaluasi ekonomi 2010 dan Prospek Ekonomi 2011,
http://www.finansialbisnis.com/Data2/Riset/Prospek%20Ekonomi%202011.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s