Sejarah Perkembangan Serta Standarisasi Akuntansi di Dunia Internasional dan Indonesia


Sejarah Perkembangan Serta Standarisasi
Akuntansi di Dunia Internasional dan Indonesia

1. Sejarah Perkembangan Akuntansi
1.1 Awal Sejarah Akuntansi

Sejarah akuntansi bermula sejak dulu, sekira 3.000 tahun SM. Para ahli arkeologi telah melakukan berbagai penelitian untuk memahami sejarah kemunculan akuntansi, di mana dirintisnya dan kapan mulai digunakan. Hasil dari penelitian-penelitian arkeolog menunjukkan bahwa prinsip akuntansi sudah digunakan sejak dahulu. Sistem yang menjadi nenek moyang prinsip akuntansi yang kita kenal sekarang itu disebut double-entry bookkeeping atau pembukuan pencatatan berpasangan.

Pembukuan pencatatan berpasangan ini merupakan tanda peradaban yang maju. Itu karena pembukuan telah mengenal seni pencatatan, aspek aritmatika melalui hitung-hitungan yang sederhana, pengelolaan uang, sistem perdagangan yang maju, dan pembedaan harta dagang dengan mempertimbangkan aspek kepemilikan pribadi dan modal pedagang.
Selanjutnya, penelitian-penelitian arkeologi membuktikan bahwa sejarah akuntansi dimulai di Timur Tengah. Pedagang Arab dan pedagang Mesir adalah orang-orang yang kali pertama membuat sistem pembukuan pencatatan berpasangan dalam pengelolaan keuangan perdagangannya.

Bangsa Arab disebut-sebut sebagai pionir, lantas mengembangkannya dengan memperkenalkan proses pencatatan berpasangan tersebut kepada para pedagang Mesir. Dalam perkembangannya, sistem pembukuan pencatatan berpasangan menjadi sistem pembukuan standar yang digunakan para pedagang Timur Tengah.
Seiring berjalannya waktu, perdagangan di wilayah Timur Tengah meluas ke Benua Eropa. Oleh karena itu, sistem pembukuan pencatatan berpasangan mulai digunakan di Eropa. Pembukuan yang merupakan nenek moyang akuntansi ini kemudian dikembangkan di tangan orang-orang Eropa.

1.2 Sejarah Akuntansi di Eropa
Dari tangan pedagang Timur Tengah, warisan intelektual nenek moyang ilmu akuntansi ini dikembangkan oleh bangsa Eropa, khususnya Italia. Sejak 1495, ilmu akuntansi mulai populer digunakan karena logika matematisnya mudah dipahami dan bermanfaat dalam mengelola keuangan.

Para cendikiawan Italia yang tertarik akan ilmu ini kemudian membuat teori-teori baru dan para pedagang menuliskan pembukuan pencatatan berpasangan dalam pengelolaan perdagangan mereka. Salah satu buku pencatatan berpasangan yang tertua ditemukan di Genoa. Buku tersebut menunjukkan tanggal-tanggal pada tahun 1340.

Kemudian, muncullah Luca Pacioli (1445 – 1517) yang berkontribusi dalam perkembangan pencatatan keuangan di Italia. Ia adalah seorang pastur yang berasal dari ordo Fransiskus. Pada 1494, ia menulis buku berjudul “Summa de Arithmetica Geometria, Proportioni et Proportionalita”.

Di buku itu terdapat sebuah bab bertajuk “de Computis et Scripturis” yang memaparkan informasi dan teori-teori mengenai pembukuan pencatatan berpasangan. Dalam bab tersebut, ia menjelaskan, “Dalam rangka menyediakan informasi kepada para pedagang tentang keadaan harta dan utang-utangnya, sistem pencatatan debit dan kredit (adebeo dan credito) dipakai.

Semua pencatatan arus keluar masuk uang harus berpasangan (debit dan kredit). Artinya, apabila Anda mencatatkan kreditor, Anda harus mencatatkan debitor juga di sampingnya.”
Luca Pacioli juga membuat teori mengenai penggunaan tiga jenis buku dalam pembukuan, yakni sebuah jurnal, sebuah memorandum, serta sebuah buku besar. Ia juga mencetuskan penghitungan laba dan penutupan buku setiap satu periode. Penghitungan berdasarkan periode ini merupakan gagasannya setelah melihat bahwa saat itu umur perusahaan-perusahaan bisnis tidak pernah panjang.

Pacioli menyarankan kepada para pemilik perusahaan bisnis untuk menutup buku dan membuat laporan laba setiap tahun agar pencatatan semakin rapi dan hubungan antara perusahaan dan mitra kerja semakin erat mengingat pencatatan keuangan yang transparan dan terkelola dengan baik. Buku teori dan prinsip akuntansi serta pengelolaan keuangan karya Pacioli ini kemudian dipublikasikan dalam bahasa Inggris di London pada 1543.
Selain Pacioli, ada nama-nama lain dalam perkembangan sejarah akuntansi. Salah satunya adalah John Mellis. Ia menulis sebuah buku praktis pada 1588 mengenai perkembangan prinsip-prinsip akuntansi. Ia mengklaim dirinya sebagai pembaru dan pengembang teori-teori Luca Pacioli.

1.3 Sejarah Akuntansi pada Abad-Abad Selanjutnya
Setelah muncul beberapa nama yang berkontribusi dalam perkembangan sejarah akuntansi, ilmu akuntansi terus mengalami perkembangan. Perkembangan ilmu akuntansi terjadi karena semakin kompleksnya proses perdagangan di dunia ini.

Pada abad ke-16, para pedagang dan cendekiawan melakukan perubahan di sana-sini dalam teknik pembukuan. Pada abad ini, lahirlah pencatatan jurnal-jurnal khusus. Jurnal khusus berisi transaksi-transaksi yang khusus terkait dengan satu jenis pencatatan, misalnya jurnal khusus pembelian atau jurnal khusus pengeluaran kas.

Pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17, sebuah evolusi dalam pembuatan laporan keuangan periodik terjadi. Jenis-jenis akun pun semakin beragam dan kompleks karena akuntansi semakin banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang barang dan metode perdagangannya beragam.

Perkembangan akuntansi tidak terlepas dari berkembangnya East India Company pada abad ke-17. Ilmu akuntansi semakin banyak dibutuhkan sehingga para akuntan memiliki status yang baik dan ilmu akuntansi semakin berkembang. Pada saat itu muncullah gagasan penghitungan akuntansi biaya.

Selanjutnya, pada akhir abad ke-17 dan abad ke-18, para cendekiawan ilmu akuntansi melakukan suatu evolusi personifikasi atas seluruh akun dan jenis transaksi. Evolusi ini dilakukan sebagai langkah rasionalisasi aturan pemasukan debit dan kredit bagi akun-akun yang tidak jelas hubungannya dan abstrak jenisnya. Pencatatan aktiva tetap atau harta tetap juga mengalami evolusi metode pada abad ke-18.

Seiring dengan terjadinya revolusi industri di Inggris pada abad ke-19, akuntansi biaya yang sebelumnya hanya berupa gagasan mulai muncul dan dipergunakan oleh perusahaan-perusahaan industri dan perusahaan-perusahaan dagang. Lantas teknik-teknik akuntansi berkembang dengan adanya metode pembayaran yang disebut pembayaran di muka.

Pencatatan laporan dana dan laporan laba juga mengalami perkembangan yang positif dan signifikan pada abad ini.
Pada abad ke-20, khususnya pada pertengahan dan akhir abad, akuntansi berkembang menjadi semakin kompleks. Akuntansi tidak hanya digunakan oleh perusahaan dagang atau industri, tetapi juga digunakan untuk menghitung laba saham, membuat pencatatan keuangan perusahaan jasa, menghitung inflasi, dana pensiun, hingga rekayasa keuangan.

1.4 Sejarah Akuntansi – Era Komputer Akuntansi
Perkembangan teknologi dan informasi pada akhir abad ke-20 membuka lembaran baru dalam sejarah akuntansi. Seiring dengan menjamurnya penggunaan komputer di perusahaan-perusahaan sejak akhir abad ke-20, posisi akuntan semakin dimudahkan dengan perangkat-perangkat lunak di bidang akuntansi. Perangkat-perangkat lunak ini pada dasarnya berfungsi untuk memudahkan akuntan membuat laporan keuangan (mulai dari neraca hingga laporan akhir keuangan).

Kelebihan dari perangkat lunak akuntansi adalah program komputer ini dapat meminimalisasi human error yang mungkin terjadi dalam pencatatan akuntansi manual yang telah dilakukan selama berabad-abad. Selain itu, perangkat lunak akuntansi juga membantu pengerjaan laporan keuangan menjadi lebih cepat sehingga produktivitas kinerja perusahaan meningkat.

Hingga saat ini, jenis-jenis perangkat lunak akuntansi terus bertambah dan berinovasi menyesuaikan kebutuhan perusahaan-perusahaan. Ada banyak perangkat lunak akuntansi yang dapat digunakan oleh suatu perusahaan baik yang berbayar (harganya beragam mulai dari puluhan ribu hingga mencapai ratusan juta rupiah) maupun gratis.
Salah satu perangkat lunak akuntansi tertua adalah program MYOB (Mind Your Own Bussiness). Diluncurkan pada 1991 di Australia, perangkat lunak akuntansi buatan perusahaan aplikasi komputer bernama Data Tech Software ini tercatat sebagai salah satu program akuntansi pertama yang membantu kegiatan pengolahan transaksi akuntansi hingga menjadi laporan keuangan.

MYOB menginspirasi berkembangnya inovasi-inovasi lain di bidang perangkat lunak akuntasi. Program ini tercatat dalam sejarah akuntansi sebagai program tertua.

1.5 Sejarah Akuntansi Indonesia
Praktik akuntansi di Indonesia dapat ditelusur pada era penjajahan Belanda sekitar 17 (ADB 2003) atau sekitar tahun 1642 (Soemarso 1995). Jejak yang jelas berkaitan dengan praktik akuntansi di Indonesia dapat ditemui pada tahun 1747, yaitu praktik pembukuan yang dilaksanakan Amphioen Sociteyt yang berkedudukan di Jakarta (Soemarso 1995). Pada era ini Belanda mengenalkan sistem pembukuan berpasangan (double-entry bookkeeping) sebagaimana yang dikembangkan oleh Luca Pacioli. Perusahaan VOC milik Belanda-yang merupakan organisasi komersial utama selama masa penjajahan-memainkan peranan penting dalam praktik bisnis di Indonesia selama era ini (Diga dan Yunus 1997).

Kegiatan ekonomi pada masa penjajahan meningkat cepat selama tahun 1800an dan awal tahun 1900an. Hal ini ditandai dengan dihapuskannya tanam paksa sehingga pengusaha Belanda banyak yang menanmkan modalnya di Indonesia. Peningkatan kegiatan ekonomi mendorong munculnya permintaan akan tenaga akuntan dan juru buku yang terlatih.

Akibatnya, fungsi auditing mulai dikenalkan di Indonesia pada tahun 1907 (Soemarso 1995). Peluang terhadap kebutuhan audit ini akhirnya diambil oleh akuntan Belanda dan Inggris yang masuk ke Indonesia untuk membantu kegiatan administrasi di perusahaan tekstil dan perusahaan manufaktur (Yunus 1990). Internal auditor yang pertama kali datang di Indonesia adalah J.W Labrijn-yang sudah berada di Indonesia pada tahun 1896 dan orang pertama yang melaksanakan pekerjaan audit (menyusun dan mengontrol pembukuan perusahaan) adalah Van Schagen yang dikirim ke Indonesia pada tahun 1907 (Soemarso 1995).

Pengiriman Van Schagen merupakan titik tolak berdirinya Jawatan Akuntan Negara-Government Accountant Dienst yang terbentuk pada tahun 1915 (Soermarso 1995). Akuntan publik yang pertama adalah Frese & Hogeweg yang mendirikan kantor di Indonesia pada tahun 1918. Pendirian kantor ini diikuti kantor akuntan yang lain yaitu kantor akuntan H.Y.Voerens pada tahun 1920 dan pendirian Jawatan Akuntan Pajak-Belasting Accountant Dienst (Soemarso 1995). Pada era penjajahan, tidak ada orang Indonesia yang bekerja sebagai akuntan publik. Orang Indonesa pertama yang bekerja di bidang akuntansi adalah JD Massie, yang diangkat sebagai pemegang buku pada Jawatan Akuntan Pajak pada tanggal 21 September 1929 (Soemarso 1995).

Kesempatan bagi akuntan lokal (Indonesia) mulai muncul pada tahun 1942-1945, dengan mundurnya Belanda dari Indonesia. Pada tahun 1947 hanya ada satu orang akuntan yang berbangsa Indonesia yaitu Prof. Dr. Abutari (Soermarso 1995). Praktik akuntansi model Belanda masih digunakan selama era setelah kemerdekaan (1950an). Pendidikan dan pelatihan akuntansi masih didominasi oleh sistem akuntansi model Belanda. Nasionalisasi atas perusahaan yang dimiliki Belanda dan pindahnya orang orang Belanda dari Indonesia pada tahun 1958 menyebabkan kelangkaan akuntan dan tenaga ahli (Diga dan Yunus 1997).

Atas dasar nasionalisasi dan kelangkaan akuntan, Indonesia pada akhirnya berpaling ke praktik akuntansi model Amerika. Namun demikian, pada era ini praktik akuntansi model Amerika mampu berbaur dengan akuntansi model Belanda, terutama yang terjadi di lembaga pemerintah. Makin meningkatnya jumlah institusi pendidikan tinggi yang menawarkan pendidikan akuntansi-seperti pembukaan jurusan akuntansi di Universitas Indonesia 1952, Institute Ilmu Keuangan (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara-STAN) 1990, Univesitas Padjajaran 1961, Universitas Sumatera Utara 1962, Universitas Airlangga 1962 dan Universitas Gadjah Mada 1964 (Soermarso 1995)-telah mendorong pergantian praktik akuntansi model Belanda dengan model Amerika pada tahun 1960 (ADB 2003). Selanjutnya, pada tahun 1970 semua lembaga harus mengadopsi sistem akuntansi model Amerika (Diga dan Yunus 1997).

Pada pertengahan tahun 1980an, sekelompok tehnokrat muncul dan memiliki kepedulian terhadap reformasi ekonomi dan akuntansi. Kelompok tersebut berusaha untuk menciptakan ekonomi yang lebih kompetitif dan lebih berorientasi pada pasar-dengan dukungan praktik akuntansi yang baik. Kebijakan kelompok tersebut memperoleh dukungan yang kuat dari investor asing dan ¬lembaga-lembaga internasional (Rosser 1999). Sebelum perbaikan pasar modal dan pengenalan reformasi akuntansi tahun 1980an dan awal 1990an, dalam praktik banyak ditemui perusahaan yang memiliki tiga jenis pembukuan-satu untuk menunjukkan gambaran sebenarnya dari perusahaan dan untuk dasar pengambilan keputusan; satu untuk menunjukkan hasil yang positif dengan maksud agar dapat digunakan untuk mengajukan pinjaman/kredit dari bank domestik dan asing; dan satu lagi yang menjukkan hasil negatif (rugi) untuk tujuan pajak (Kwik 1994).

Pada awal tahun 1990an, tekanan untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan muncul seiring dengan terjadinya berbagai skandal pelaporan keuangan yang dapat mempengaruhi kepercayaan dan perilaku investor. Skandal pertama adalah kasus Bank Duta (bank swasta yang dimiliki oleh tiga yayasan yang dikendalikan presiden Suharto). Bank Duta go public pada tahun 1990 tetapi gagal mengungkapkan kerugian yang jumlah besar (ADB 2003). Bank Duta juga tidak menginformasi semua informasi kepada Bapepam, auditornya atau underwriternya tentang masalah tersebut. Celakanya, auditor Bank Duta mengeluarkan opini wajar tanpa pengecualian. Kasus ini diikuti oleh kasus Plaza Indonesia Realty (pertengahan 1992) dan Barito Pacific Timber (1993). Rosser (1999) mengatakan bahwa bagi pemerintah Indonesia, kualitas pelaporan keuangan harus diperbaiki jika memang pemerintah menginginkan adanya transformasi pasar modal dari model “casino” menjadi model yang dapat memobilisasi aliran investasi jangka panjang.

Berbagai skandal tersebut telah mendorong pemerintah dan badan berwenang untuk mengeluarkan kebijakan regulasi yang ketat berkaitan dengan pelaporan keuangan. Pertama, pada September 1994, pemerintah melalui IAI mengadopsi seperangkat standar akuntansi keuangan, yang dikenal dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Kedua, Pemerintah bekerja sama dengan Bank Dunia (World Bank) melaksanakan Proyek Pengembangan Akuntansi yang ditujukan untuk mengembangkan regulasi akuntansi dan melatih profesi akuntansi. Ketiga, pada tahun 1995, pemerintah membuat berbagai aturan berkaitan dengan akuntansi dalam Undang Undang Perseroan Terbatas. Keempat, pada tahun 1995 pemerintah memasukkan aspek akuntansi/pelaporan keuangan kedalam Undang-Undang Pasar Modal (Rosser 1999).

Jatuhnya nilai rupiah pada tahun 1997-1998 makin meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan. Sampai awal 1998, kebangkrutan konglomarat, collapsenya sistem perbankan, meningkatnya inflasi dan pengangguran memaksa pemerintah bekerja sama dengan IMF dan melakukan negosiasi atas berbagaai paket penyelamat yang ditawarkan IMF. Pada waktu ini, kesalahan secara tidak langsung diarahkan pada buruknya praktik akuntansi dan rendahnya kualitas keterbukaan informasi (transparency). Berikut ini tabel ringkasan perkembangan akuntansi di Indonesia :

Perkembangan Akuntansi di Indonesia

2. Standarisasi Akuntansi
2.1 Di Dunia Internasional
2.1.1 International Accounting Standards Committee (IASC)

The International Accounting Standards Committee (IASC) was formed in 1973 through an agreement made by professional accountancy bodies from Australia, Canada, France, Germany, Japan, Mexico, the Netherlands, the United Kingdom and Ireland, and the United States of America. Additional sponsoring members were added in subsequent years, and in 1982 the sponsoring “members” of the IASC comprised all of the professional accountancy bodies that were members of the International Federation of Accountants (IFAC).

From its formation in 1973 until a comprehensive reorganisation in 2000, the structure for setting International Accounting Standards was known as the International Accounting Standards Committee (IASC).

2.1.2 International Accounting Standards Board (IASB)
The International Accounting Standards Board (IASB) is an independent, private-sector body that develops and approves International Financial Reporting Standards (IFRSs). The IASB operates under the oversight of the IFRS Foundation. The IASB was formed in 2001 to replace the International Accounting Standards Committee.

2.2 Di Indonesia
2.2.1 Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)

Pada waktu Indonesia merdeka, hanya ada satu orang akuntan pribumi, yaitu Prof. Dr. Abutari, sedangkan Prof. Soemardjo lulus pendidikan akuntan di negeri Belanda pada tahun 1956.
Akuntan-akuntan Indonesia pertama lulusan dalam negeri adalah Basuki Siddharta, Hendra Darmawan, Tan Tong Djoe, dan Go Tie Siem, mereka lulus pertengahan tahun 1957. Keempat akuntan ini bersama dengan Prof. Soemardjo mengambil prakarsa mendirikan perkumpulan akuntan untuk bangsa Indonesia saja. Alasannya, mereka tidak mungkin menjadi anggota NIVA (Nederlands Institute Van Accountants) atau VAGA (Vereniging Academisch Gevormde Accountants). Mereka menyadari keindonesiaannya dan berpendapat tidak mungkin kedua lembaga itu akan memikirkan perkembangan dan pembinaan akuntan Indonesia.

Hari Kamis, 17 Oktober 1957, kelima akuntan tadi mengadakan pertemuan di aula Universitas Indonesia (UI) dan bersepakat untuk mendirikan perkumpulan akuntan Indonesia. Karena pertemuan tersebut tidak dihadiri oleh semua akuntan yang ada maka diputuskan membentuk Panitia Persiapan Pendirian Perkumpulan Akuntan Indonesia. Panitia diminta menghubungi akuntan lainnya untuk menanyakan pendapat mereka. Dalam Panitia itu Prof. Soemardjo duduk sebagai ketua, Go Tie Siem sebagai penulis, Basuki Siddharta sebagai bendahara sedangkan Hendra Darmawan dan Tan Tong Djoe sebagai komisaris. Surat yang dikirimkan Panitia kepada 6 akuntan lainnya memperoleh jawaban setuju.
Perkumpulan yang akhirnya diberi nama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) akhirnya berdiri pada 23 Desember 1957, yaitu pada pertemuan ketiga yang diadakan di aula UI pada pukul 19.30.

Susunan pengurus pertama terdiri dari:

Susunan Pengurus Pertama IAI

Susunan Pengurus Pertama IAI

Keenam akuntan lainnya sebagai pendiri IAI adalah
1) Prof. Dr. Abutari
2) Tio Po Tjiang
3) Tan Eng Oen
4) Tang Siu Tjhan
5) Liem Kwie Liang
6) The Tik Him

Konsep Anggaran Dasar IAI yang pertama diselesaikan pada 15 Mei 1958 dan naskah finalnya selesai pada 19 Oktober 1958. Menteri Kehakiman mengesahkannya pada 11 Pebruari 1959. Namun demikian, tanggal pendirian IAI ditetapkan pada 23 Desember 1957. Ketika itu, tujuan IAI adalah :

1) Membimbing perkembangan akuntansi serta mempertinggi mutu pendidikan akuntan.
2) Mempertinggi mutu pekerjaan akuntan.


Sumber :
1. anneahira.com
http://www.anneahira.com/sejarah-akuntansi.htm
2. staff.undip.ac.id
http://staff.undip.ac.id/akuntansi/anis/2011/03/21/sejarah-perkembangan-akuntansi-di-indonesia/
3. iasplus.com
http://www.iasplus.com/en/resources/ifrsf/history/resource25
http://www.iasplus.com/en/resources/ifrsf/iasb-ifrs-ic/iasb
4. iaiglobal.or.id
http://www.iaiglobal.or.id/v02/tentang_iai.php?id=6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s